Peran Apoteker (?)

apotek2

Selasa pagi, entah tanggal berapa, saya mendapat kuliah tamu pada mata kuliah Integrated Dispensing dari seorang dosen praktisi, bu Karimah namanya. Entah mengapa, sampai sekarang, masih saja teringat dibenak ini apa yang Beliau sampaikan. Saya ingat, kalimat yang pertama keluar, sebuah pertanyaan dasar yang harusnya diketahui jawabannya oleh semua pihak-pihak yang ada di laga perfarmasian.

Ada yang bisa menjelaskan definisi obat?

Ada seorang kawan di seberang yang menjawab pertanyaan Beliau. Kemudian, dengan sedikit keraguan saya pun mengangkat tangan juga untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Obat merupakan senyawa yang dalam jumlah tertentu dapat mempengaruhi fungsi fisiologi tubuh

Setelah itu, Beliau memberitahu bahwa banyak apoteker yang diajari definisi lain yaitu obat adalah racun, yang dalam dosis tertentu bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit. Oke, memang definisi tersebut tidaklah salah. Namun, menurut Beliau, definisi tersebut terlalu melihat obat dari perspektif negatif. Bila apoteker saja memandang negatif obat, bagaimana pasien mau percaya dengan pengobatan yang sedang dijalaninya?
Ga salah memang, masalah kepatuhan pasien memang menjadi poin penting dalam suatu proses pengobatan, terutama untuk pasien yang menggunakan antibiotik serta pasien-pasien dengan penyakit kronis (yang dapat beraktivitas “normal” dengan menjaga kondisi tubuhnya).

Selanjutnya, Beliau menambahkan, bahwa apoteker-apoteker sekarang ini banyak ada yang melupakan hakikat sesungguhnya, tujuan akhir dalam suatu Pharmaceutical Care (Asuhan Kefarmasian), yaitu PASIEN. Masih banyak ada yang sibuk berantem dengan dokter profesi kesehatan yang lain, yang seharusnya menjadi rekan dalam melayani pasien.
(uhuk, tertohok. Padahal jaman tingkat 3-4 waktu s1 sering banget berantem sama dokter di kaskus salah satu forum online terbesar di Indonesia)

Peran apoteker itu sebenarnya sudah jelas dan tidak dapat tergantikan (hakikat profesi: keilmuan dengan batasan jelas dan tidak dapat digantikan). Jadi, seharusnya apoteker tidak hanya sibuk berantem, namun sibuk membenahi dirinya agar dapat meningkatkan kapasitas diri. Menurut Beliau, ada dua peran apoteker yaitu to help patients with health problems to make the best use of their medicine dan contribute to health improvement.
Konsep make the best use itu seperti apa? intinya, bantu pasien mendapatkan manfaat maksimal dari obat yang diminum serta mengurangi efek samping. Nah, agar bisa melakukan peran tersebut, apoteker belajar dasar-dasar teori yang dapat membantunya untuk membuat keputusan pengobatan terbaik untuk pasien, seperti teori farmakologi, patofisiologi, farmakoterapi, dan lain-lain.
Apoteker komunitas (yang bekerja di apotek) memiliki tugas seperti berikut ini yaitu screening resep, filling resep, patient information, patient counseling, dan medication review.
nah, pada saat screening resep, sebenernya “ga masalah” klo kelengkapan administrasi ga lengkap di resepnya, asalkan logis. Pengecualian pada obat-obatan golongan narkotika dan psikotropika. Contohnya, anak muda dikasih resep valium dan resepnya ga ada (atau ga lengkap) kelengkapan administrasinya. Nah, valium kan diazepam (psikotropika-obat penenang/tidur), ga mungkin anak muda butuh obat kayak gitu buat tidur (kec mungkin kasus tertentu, yang pencilan banget). Anak muda mah tinggal berkegiatan rada berat aja siangnya, nanti juga tidur alami.
Balik lagi, pada saat screening resep, trus ada masalah kelengkapan administrasi, kita sebagai apoteker bakal ngapain?
Apoteker ga bisa sekedar nolak dan suruh pulang, toh pasiennya tinggal pindah apotek (dan klo apotek tersebut ga ideal) juga bisa beli. Apoteker saat ini harus bisa kasih solusi, makanya tadi sebenernya “ga masalah” klo kelengkapan administrasi ga lengkap di resepnya, asalkan logis. Pasien itu dateng pengen curhat dan butuh solusi karena menganggap kita bisa kasih solusi.

Teori dasar yang apoteker butuhkan, misal farmakologi, itu mengajarkan “obat ini apa gunanya”, “bagaimana cara kerjanya”, dan “efek samping yang mungkin timbul” itu seperti apa. Teori dasar itu nantinya perlu kita ketahui teknis penggunaannya di apotek seperi apa. Contohnya, bagaimana mengevaluasi bahwa obat tersebut bekerja sesuai dengan yang diharapkan dan bila tidak, langkah seperti apa yang sebaiknya dilakukan.
Apoteker perlu menekankan bahwa minum obat itu bukan cuma ritual, melainkan ada tujuannya. Oleh karena itu, perlu tau parameter-parameter yang menunjukkan tujuannya tercapai.
Apoteker perlu mengetahui angka-angka hasil pengobatan karena pengetahuan modern sudah melibatkan angka-angka perihal target dan evaluasi terapi (mengandalkan gejala sudah kuno lama ditinggalkan, ceunah)

Contoh, untuk pasien Diabetes Melitus (DM), gula darahnya itu ditargetkan (saat masih belum parah) sebesar 130 mg/dL (khusus untuk yang DM, LDL>100 mg/dL). Kemudian, untuk yang sudah wajib minum obat itu klo LDLnya >160 mg/dL (khusus untuk yang DM, LDL>130 mg/dL).

Kesimpulannya, Selayaknya sebagai profesi apoteker, seharusnya apoteker itu bisa menjadi ahli obat sehingga membuat profesi sejawatnya butuh terhadap perannya. Sebenarnya terdapat faktor eksternal dan internal dari tubuh apoteker itu sendiri yang menyebabkan apoteker di indonesia tidak dihargai seperti di luar negeri (amerika contohnya).
Menurut Beliau, sebenernya kita ga punya waktu buat mengeluh, berantem dsb dengan profesi lain atau keadaan.
Banyak tugas2 lain yang butuh peran kita. Seharusnya dengan terus belajar agar menjadi ahli obat yang sesungguhnya, kita pasti dengan sendirinya mendapatkan hati di sisi masyarakat kelak.

Ingat, apoteker ini penjaga gerbang terakhir pada pelayanan kesehatan sebelum pasien menerima obatnya.
Dokter “boleh salah”, tapi apoteker GA BOLEH salah!!!

27 Desember 2014
Rizky Akbar Dana

PS: Ibunya bilang klo mau tahu lebih lanjut, buat masyarakat umum (dan apoteker tentunya), bisa kunjungi facebook Cpe Alumni-Itb.
Semoga bermanfaat 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s