Muhan Dojeon (무한도전), Program yang Menjadi Legenda

Sabtu pagi sudah menjadi jadwal saya menonton Muhan Dojeon (무한도전), sebuah variety show asal korea. Maklum, subtitle berbahasa inggrisnya baru keluar jumat malam atau sabtu pagi walaupun video raw-nya sudah keluar dari sabtu malam di minggu sebelumnya. Namun, hal tersebut sudah banyak dimaklumin penggemar-penggemar “veteran” seperti saya karena kami pernah merasakan periode kelam (harus menonton dengan bahasa kalbu selama 1-3 bulan sebelum subtitle-nya keluar, itu pun episode lama).

Aaaah, memang kalau sudah jatuh hati itu susah ya dilupakan :))

Tahun 2010, awal saya mengenal dan tertarik hal-hal mengenai Korea. Lucu memang, dulu niatnya untuk bahan obrolan saat deketin seorang perempuan. Namun sekarang sepertinya saya lebih tahu banyak (baca: gila) tentang korea dibanding dia, hahahaha. Ngalor ngidul tentang cerita cewe ini mungkin bukan buat umum (:p). Selain hal tersebut yang mengenalkan saya dengan dunia korea, ada faktor lain yang berperan penting membuat saya tahu tentang program ini. Faktor tersebut yaitu seorang sosok entertainer yang menurut saya luar biasa perilakunya. Sosok ini adalah Yoo Jaesuk, seorang ikon komedian terkenal asal seoul. Bisa dibilang, dia itu adalah bias saya dalam hal entertainer korea idaman. Awalnya, saya mulai kenal Yoo Jaesuk dari variety show Happy Together Season 3 dan Family Outing. Selanjutnya, saya mulai mengikuti acara-acaranya yang lain yaitu Running Man dan Infinity Challenge (Muhan Dojeon) ini. Terkait sosok dia dan acaranya yang lain, bisa saya bahas di lain waktu, bila sempat.

Program Muhan Dojeon, yang setiap sabtu malam ditayangkan langsung pada saluran MBC, merupakan salah satu variety show favorit di korea. Program ini sudah tayang sejak 23 april 2005 dan tahun ini genap berumur sepuluh tahun. Muhan Dojeon merupakan program pertama di korea yang memakai konsep “Real-Variety” yang menyebabkan (hampir) tidak ada script atau naskah dalam pengambilan videonya.

The program is largely unscripted and follows a similar format of challenge-based Reality Television programs, familiar to some audiences in the West. The challenges are often silly, absurd, or impossible to achieve, so the program takes on the aspect of a satirical comedy variety show rather than a more standard reality or contest program. In earlier episodes, the show’s six hosts and staff would continuously proclaim that, in order to achieve its comedic purposes, the program was 3-D: Dirty, Dangerous, and Difficult. [Sumber: wiki]

Dalam banyak kasus, hal pertama yang terpikir saat mendengar variety show yaitu games dan leluconnya. Namun beda halnya dengan Mudo (red: Muhan Dojeon). Sejak pertama kali kenal dengan program ini hingga sekarang, program ini sukses mengacak-acak emosi. Ada kalanya saya tertawa sampai perut tak tahan menahan sakit, ada kalanya penuh haru sampai tiada henti bercucuran air mata. Oleh karena itu, sampai sekarang, tidak pernah bosan saya menikmati suguhan ini setiap minggu. Walaupun tidak sepopuler Running Man di luar Korea, program ini merupakan raja variety show di rumahnya. Mulai dari aktor, idol, sampai komedian, banyak yang mencoba untuk tampil di program ini. Program ini bisa dibilang memiliki power/force untuk menggerakkan banyak orang di Korea, mulai dari membuat seseorang atau sesuatu terkenal (pernah ada periode saat Mudo melakukan challenge olahraga yang kurang dikenal atau diperhatikan) sampai membuat statement terkait isu tertentu yang dampak luas pada publik korea untuk menyadarkan bahwa terdapat isu tersebut di negara mereka.

Apa yang menyebabkan kepopuleran tersebut?

Menurut pendapat saya, yang menyebabkan penggemarnya terus menggemari acara ini tidak lain dan tidak bukan akibat kerja keras member dan staff yang mampu menggerakkan hati penontonnya. Program yang digerakkan oleh hati dapat menggerakkan hati, menurut saya. Sudah tidak terhitung banyaknya momen-momen dalam program tersebut yang sukses mengacak ruang-ruang dalam hati penontonnya. Salah satu contohnya, pada proyek terbaru [Muhan Delivery], member dituntut untuk mengantarkan makanan khas Korea untuk warga Korea yang sedang atau sudah lama tidak menikmati masakan Korea, membuat mereka terobati kenangan memori rumah. Pada episode terbaru, HaHa harus mengantarkan makanan untuk warga Korea di Utoro, Jepang. Ceritanya, warga Korea yang dahulu dikirim ke sana untuk kerja paksa oleh tentara jepang, sudah bergenerasi-generasi tinggal dan menetap di sana hingga sekarang. Sejak tahun 1987, warga dibayang-bayangi isu bahwa mereka harus angkat kaki dari sana sedangkan di Korea mereka tidak memiliki apapun. Pada 1999, hasil pengadilan memutuskan kalahnya pihak warga Korea. Para warga pun meminta pertolongan dari penduduk di Korsel untuk menolong mereka. Di Korsel pun mulai terdapat gerakan untuk menolong mereka hingga akhirnya donasinya dapat digunakan untuk membeli tanah di sana pada tahun 2005. Dengan meliput insiden ini, Mudo membuat warga korsel yang sekarang tidak tahun mengenai isu ini menjadi tahu. Datangnya mereka ke sana dapat dianggap untuk memberitahu warga di sana bahwa mereka tidak sendiri dan berkembangnya isu ini dapat menumbuhkan dukungan dari korsel. Selain hal ini, masih banyak sekali contoh-contoh proyek atau momen damn-ninja-cutting-onion lain namun yang saya suka yaitu ketika member Mudo saling berpelukan dan menangis ketika selesai melakukan challenge yang biasanya tidak 100% berpihak hasilnya pada member, mulai dari tantangan dancing, bobsled,wrestling, rowing, sampai racing.

Pada akhirnya, inti yang membuat saya jatuh hati pada program ini yaitu ketika menikmati interaksi “internal” yang disuguhkan oleh member dan staf. Interaksi yang sangat hangat antara member maupun antar member dengan staf, menumbuhnya rasa saling memiliki sehingga member dan staf memberikan 100% usaha untuk keberlangsungan program. Mereka percaya bahwa kerja keras itu akan terbayar dan ini yang menggerakkan hati penontonnya, termasuk saya. Saya banyak belajar dari program ini. Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh member Mudo, saya juga setuju bahwa program ini sudah mengubah banyak orang, termasuk saya.

Jika kamu belum pernah menonton Mudo, pastikan coba ditonton dahulu, terutama episode-episode yang sudah memiliki terjemahan bahasa inggris. Dijamin, tontonan ini tidak seperti tontonan-tontonan korea yang pernah kamu tonton 😀

——edit

Saya menemukan berita lama yang terkait dengan isu warga Korea di Utoro. Jika mau tau lebih banyak, Anda bisa mengunjungi situs ini 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s