Indonesia Terpolarisasi

pp_14-06-10_polarizationtiles_01

Pemilihan umum 2014 sudah berlalu hampir dua tahun, tetapi masyarakat Indonesia masih belum dapat terlepas dari dampak besar yang terjadi, yaitu polarisasi politik. Perseteruan dua kubu politik membuat polarisasi yang terjadi tidak hanya pada tingkat pendukung partisan, tetapi juga masyarakat secara luas. Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 sukses membelah kelompok politik menjadi dua kubu yang bertarung sengit, bahkan masih terbawa hingga sekarang, hampir dua tahun pasca pilpres.

Polarisasi politik yang tepat dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan Indonesia. Pihak yang tidak terpilih berserta koalisinya akan menjadi penyeimbang bagi pemerintah sebagai oposisi. Namun,  nyatanya hanya dampak buruk dari polarisasi politik yang dominan terjadi. Sudah menjadi tren bahwa kedua kubu akan saling berteriak dan menyalahkan satu sama lain pada setiap permasalahan negara.

Dalang yang berperan besar dalam mengatur politik indonesia sehingga menyebabkan polarisasi yang tajam ini adalah media. Media-media yang ada di Indonesia seakan terjebak ke dalam kutub yang didukungnya dan ikut menggemakan kutubnya masing-masing. Akibatnya, beberapa golongan masyarakat cenderung hanya mengikuti salah satu media yang sesuai dengan preferensinya. Konsekuensinya, they don’t even start with a common baseline of facts. Mereka menempati dua realita yang berbeda dalam sudung pandangnya melihat masalah.

Dalam sebuah teori pada engineering control yaitu feedback loop bahwa terdapat umpan balik positif dan negatif. Saat sebuah sistem dihilangkan umpan balik negatifnya, hasil yang terjadi yaitu hampir selalu menunjukkan hal yang kacau-balau. Saat masyarakat pada tiap kubu hanya mendengarkan atau membaca media yang sesuai dengan preferensinya, maka yang terjadi adalah situasi politik yang berbahaya. Jika tidak ada umpan balik negatif yang menarik masyarakat ke tengah bagian spektrum politik, mereka akan bergerak mendekati spektrum ekstrem.

Untitled

Jika hal tersebut terjadi, maka kondisi yang akan terjadi akan seperti ruang gaung yang hanya akan menggaungkan opini yang ingin didengar masing-masing pihak dan dalam waktu dekat, suara-suara yang digaungkan masing-masing pihak hanya akan terdengar seperti teriakan-teriakan hampa karena saling mengganggu bunyi pantul suara tersebut.

Oleh karena itu, untuk menghindari terciptanya kondisi ekstrem, sudah menjadi tanggung jawab setiap pihak pada ke dua kubu untuk mendengarkan argumen setiap pihak. Bila ke dua pihak dapat benar-benar saling mendengarkan argumen masing-masing dan mampu memahami sudut pandang setiap pihak, maka mereka berpeluang untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk bersama-sama memajukan Indonesia.

 

26 Februari 2016

Rizky Akbar Dana

Bandung, Indonesia

 

Dapus:

Video “What I learned from President Obama – Smarter Every Day 151”

http://www.people-press.org/2014/06/12/political-polarization-in-the-american-public/

http://www.rumahpemilu.org/in/read/6650/Polarisasi-Politik-Indonesia-oleh-Luky-Djani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s